Senin, 26 September 2011

trus gue musti gimana?

"pris, hati gue remuk, hancur, musnah semua
gue bingung musti gimana
gue mau semangat tapi ngga bisa
gue mau bangkit tapi ngga ada daya
trus gue musti gimana?"
--noname--

malam tadi, pintu kamar digedor tetangga sebelah, dia nangis, dia cerita, kata dia hatinya hancur, kata dia hatinya sudah remuk kayak habis "ketlindes" trek tronton yang bawaannya banyak banget udah gitu rodanya ngga keitung berapanya saking efek yang dibikin luarbiasa naas.nya, kata dia lagi hatinya sudah tak mungkin lagi disatukan, sebab kepingan-kepingannya saja sudah berceceran entah kemana. bagi dia sekarang dia tak lagi punya hati, yaaa.. hatinya sudah dibawa pergi, oleh siapa? entahlah.. saya tak berani bertanya lebih jauh tentang si pembawa hati yang naasnya juga pelaku pembuat hatinya remuk-redam-berantakan seperti itu. dan dia menangis sendu.

dia cerita tentang kisahnya, dari awal pembuatan skenarionya, dari awal proses dia memilih partner yang akan bermain bersamanya, tentang bagaimana menjalani haru biru bahtera rumahtangga *dah salah bukan bahtera rumah tangga, hahahhaaa*. bagi saya yang mendengarnyaa, aaah itu kisah romantis, luarbiasa, bahkan cerita cinderella pun kalah telak oleh lakon drama seperti mereka berdua, tapi apadaya, ujung kisahnya saya simpulkan melenceng jauh dari skenario yang awal mulanya mereka susun bersama. dan jika kembali saya bandingkan, saya lebih memilih kisah cinderella yang semulanya tersingkirkan karena adanya kisah mereka. jujur saya kurang suka.

saya kurang suka karena lakon pria.nya tega sedemikian rupa sehingga lakon putri merasa tersia-sia *ini pemikiran dari sudut pandang saya sebagai temannya*, tetapi saya setuju saja dengan sikap sang pria yang demikian, ini namanya pembelajaran, agar si lakon putri tidak lagi semena-mena *ini pemikiran dari sudut pandang saya sang pria*.

nah, bingung kan..
ada 2 presepsi yang berbeda, alasan yang berbeda, motif yang tak sama diantara keduanya, dan jika malam tadi saya diberi pertanyaan pamungkas, "Trus gue musti gimana?" saya sendiripun tak yakin dengan alibi-pendapat-opini yang akan saya utarakan, sebab jika dikembalikan semuanya bisa dinilai sama baiknya dari dua kacamata yang berbeda.

dari cerita melankolis sedemikian rupa, saya "blaaaaammmm", ngga bisa bilang apa-apa, makanya saya beranikan diri nulis disini, yaa kali aja si teman saya yang semalam menangis tadi baca..

"baik, kita ambil jalan tengah saja.
semuanya sudah terjadi, airmatamu sudah mengalir, ngga mungkin lagi kan yaa ditarik ulang, dikembalikan sediakala, toh airmatamu juga sudah sirna.
tapi saya yakin dalam hati kamu akan beralibi, "sakit masih tetap menyesakkan dada".
bolehlah kamu beralibi demikian, wajar kalo kata saya,
tapi jika sampai sekarang kamu masih saja mempertahankan rasa sakit itu dan membiarkannya membelenggumu,
kapan kamu akan bangkit?
kapan kamu akan bergerak?
kapan kamu akan berpindah tempat?
kamu cukup tahu tempat itu tak lagi baik untukmu,
maka dari itu bergeraklah, berpindahlah,
terlampau banyak tempat yang bisa kamu tuju dan bisa kamu tetapkan menjadi singgahanmu.
heii, ingin saya berteriak sekencangnya-menyadarkanmu,
airmatamu terlalu berharga hanya untuk sekedar menangisi kepergiannya,
dan hatimu terlampau putih untuk sekedar kau hancurkan cuma-cuma hanya karenanya... bergeraklah..."

jujur ya, semoga dia --buat teman saya-- masih inget gimana saya diam semaleman kayak patung ngga jelas gitu.. hehehee saya teh semaleman speechles-nggabisa ngomong apa-apa didepan temen saya itu, laah gimana mau ngomong dia.nya aja lagi kacau balau berantakan gitu, yang ada tambah runyam kalo saya bilang ini-itu, makanya sore nanti kalo saya ketemu saya mau bilang kurang lebihnya kayak itu tuu.. *sambil tunjuk kalimat diatasnya*

saya ngga berani cerita banyak tentang apa yang sebenernya terjadi dengan tetangga sebelah kamar saya, dengan semua kisah-kisah roman.nya dengan apa yang dia rasakan. tapi saya pikir untuk siapapun yang membaca postingan saya ini cukup pahamlah dengan dilema luar biasa yang sedang membahana.. *bahasanya lebay*

hanya ingin sedikit menambahkan saja, untuk teman saya, dan untuk siapa saja yang mungkin ketika membaca postingan saya yang ini juga tengah merasakan hal yang sama, atau kisahnya mungkin serupa..

"jangan mubadzirkan perasaanmu.."
--pristysukma.inspirasi:curhatpribadi--



Tidak ada komentar:

Posting Komentar