Rabu, 21 November 2012

pesan dari sang pakar


pagi ini niat dalam diri masih sama, masih harus bisa memanfaatkan waktu sebaik- baiknya, yaa saya masih sibuk dengan kertas lalu seperangkat alatnya untuk melakukan ritual merangkai kata, #eh terlalu sastra memang tapi ya mau bagaimana harus dibiasakan dari sekarang siapa tau kelak bisa juga menelurkan beberapa induk buku yang bisa membuka hati banyak orang #amin #bighope

lalu karena sedemikian bahagianya leptop sudah tersambung dengan fasilitas mahabaik dan sinyal dunia maya juga sedang ramah-ramahnya saya membuka satu pages favorit saya, yaa penulis buku yang bisa dibilang idola saya -ahmad rifai rifan- dan kebetulan dalam post terbarunya beliau menuliskan satu tips agar bisa produktif menulis.
#Produktif Nulis#

Dalam dua tahun alhamdulillah, dua puluhan buku sudah tertulis. Banyak yg nanya, gimana bagi waktunya dg kuliah, dg kerja, dg ibadah, dg keluarga. Masak tiap hari nuliiis terus?. Pasti sangat bosenin banget. Dan nggak kebayang jika aktivitas saya seperti itu. Lantas, gimana cara untuk produktif nulis di sela aktivitas kita yg padat?. Ini sedikit tips dari saya, moga menginspirasi yg lain.

1. Saya sering bilang, nulis kan bisa kapan pun, dimana pun, bagaimana pun. Dulu saya saat masih kuliah, sambil nunggu datengnya dosen, saya ketik-ketik di HP, coret-coret di buku, nulis apapun yg sedang direnungkan dan dipikirkan. Begitu pun saat saya kerja di kantor, kalo lagi nggak ada tugas kantor yg perlu dikerjakan, saya gunakan untuk nulis-nulis. Maka, asal kita ada kemauan untuk produktif, insyaallah tiap waktu luang akan kita manfaatkan untuk nulis.

2. Banyak yg ngeluh, mau nulis tapi bingung nulis apaan. Banyak juga yg nanya, "Kok ada saja yg ditulis. Darimana aja sih idenya?". Masyaallah, percayalah, Ilmu Tuhan tiada batasnya. Seumur hidup jika kita terus-terusan menyerap ilmu Tuhan tanpa henti, hakikatnya yg kita serap hanyalah setetes ilmu dari samudera ilmu Tuhan. Itu yg harus kita percaya. Maka tipsnya, jadilah pribadi yg peka terhadap ilmu. Sensitif terhadap hikmah. Jadikan alam sebagai madrasah (sekolah), jadikan setiap manusia sebagai ustadz/ustadzah (guru), jadikan segala peristiwa sebagai dirosah (pelajaran), dg itu insyaallah kita tak akan terpuaskan terhadap ilmu.

3. Miliki motivasi untuk berbagi. Percayalah, ilmu, wawasan, pengalaman, sekecil apapun, jika dibagi, ia akan berdampak luas. Menebarkan inspirasi kebaikan adalah sebuah kemuliaan jika kita meniatkannya mengharap balasan dari Tuhan. Sekata tulisan kebaikan yg ditebar, tetaplah bernilai sedekah. Sekata tulisan keburukan yg disebar, tetaplah bernilai dosa. Maka tebarlah seluas mungkin kalimat-kalimat kebajikan.

4. Miliki semangat untuk mengabadikan pemikiran. Sesederhana apapun yg kita pikirkan, hakikatnya itu adalah karunia Tuhan yg sayang untuk diabaikan begitu saja. Pemikiran yg tak dituliskan, sangat rawan menguap dan hilang begitu saja. Itulah sebabnya wasiat klasik mengungkapkan, ikatlah hikmah dg menuliskannya.

5. Miliki semangat untuk mewariskan ide dan pemikiran bagi generasi mendatang. Sudah begitu banyak ahli ilmu di masa lampau yg masih kita kenang namanya, kita serap ilmunya, kita nikmati manfaatnya, lewat buku atau kitab-kitab yg dituliskan mereka di masa hidupnya. Tak inginkah kita mewariskan ide dan pemikiran kita kepada generasi mendatang?. Betapa nikmatnya menjadi manusia yg meskipun kita sudah beristirahat di dalam kubur, karya kita masih abadi, masih dibaca, menginspirasi, dan memberi pencerahan bagi pembaca yg masih hidup.

Semoga empat hal itu bisa menjadi inspirasi bagi teman2 semua untuk terus menulis. Produktiflah. Karya banyak bukan untuk bangga-banggaan, tapi untuk menebar sebanyak mungkin inspirasi, pemikiran, wawasan, ilmu, serta pengalaman yg seumur hidup yg kita hikmati.

semoga bermanfaat :)
dan lalu merasa tersentil dengan apa yang beliau tuliskan, dan semakin bercermin lalu menanyakan pada diri sendiri. semangat menulis :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar