Kamis, 18 April 2013

dalam hitungan ke-3

saya mulai menghitung dari angka 0, angka permulaan yang siapa tau memang akan menjadi awal mula dari seorang kita bercengkerama, menghitungnya perlahan dan mulai beranjak pada angka selanjutnya. saya masih diam. diam mengeja kamu dalam hitungan pertama, belum berganti pada angka sehabisnya, saya masih betah menunggu reaksimu pada hitungan ini.

lalu kamu masih menghabiskannya dengan sendu dan sembilu. pilu-mu belum kau bagi rata, senyumanmu masih senyum-senyum tipis dan gelak canda tawamu masih terbilang klise, masih tidak tau harus maju atau mundur.
apa kamu takut kehilangan seseorang yang menyayangimu tanpa pamrih?

atau kamu hanya takut kehilangan dia yang sekarang menjadikan poros dalam segala pusat pikiranmu?

atau mungkin seorang aku hanya menjadi yang kesekian dalam prioritasmu?
saya akan mulai menghitung lagi, sekarang hitungannya sudah berganti. sudah beralih dari dalih yang cukup membelenggu. sudah menjadi angka dua dan menuju titik akhir tiga.

saya akan mulai dari sekarang, dan dalam hitungan ketiga katakan segala sesuatunya. atau saya akan hitung mundur dan sekaligus menarik diri dari peredaran yang ada.
bukankah seharusnya kamu paham, bahwa seorang aku tidak akan memberikan limit dalam batasan waktu? tapi aku manusia biasa.
sekali lagi ya, saya mulai dari hitungan pertama dan semuanya harus jelas dalam hitungan ketiga.

satu,

dua,

tiga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar