Sabtu, 13 April 2013

pesan dari yang mengamati(mu) diam-diam

"I want to talk to you so bad but I am just going to sit here in hopes that you start the conversation first."
-me-
sekali lagi saya bahkan tidak punya cukup keberanian untuk membuka suara secara perlahan, sekalipun menentukan topik untuk bisa sesegera mungkin bercakap dengan seorang kamu. lagi-lagi mungkin hanya akan menjadi mimpi untuk seorang saya bisa banyak berdiskusi tentang ini dan itu, sebab ternyata kemampuanku menganalisis apa saja yang kamu suka-bahan apa saja yang seringkali bisa untuk dijadikan topik diskusi denganmu harus terpupuskan sebegitunya hanya karena saya tidak punya cukup keberanian untuk memulainya.
"Saya (mungkin) memang diciptakan untuk menjadi pengamat diam-diam dari seorang kamu."
-pemikiran-
epik ya, saya hanya bisa diam begitu kamu melintas dihadapan saya dengan tas gendong dan seperangkat alat pamungkasmu. saya juga hanya bisa diam, begitu masuk diruang petak segiempat sama sisi yang lalu kamu duduk didalamnya dan saya tidak bisa banyak berbuat apa-apa selain mengamatimu dari balik kaca. saya juga hanya bisa diam, diam yang memberi isyarat padamu meski tak pernah tersampaikan bahwa saya selalu ingin tahu apa yang kamu lakukan.
"Saya sudah buka suara, sekali dua kali saya bisa mengatasi gempa bumi kecil yang terjadi dalam dinding pertahanan seorang saya, tapi setelahnya saya tidak berkutik. ya, saya tidak bisa apa-apa."
-saya-
aah, coba sekali-kali kamu bisa disini. menatap saya dan membaca situasinya, saya ingin kamu berbicara sepatah kata dan saya akan coba membaca kamu dan berjalan tertata dalam alur yang kamu ciptakan.

saya merasa, sejauh ini saya baru bisa menjadi pengamat diam-diam dari dunia sebelah yang ingin mencoba menerobos atmosfer duniamu.

.saya.pengamat-diamdiam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar