Senin, 24 Juni 2013

kepada yang memilih diam

saya hanya ingin berpesan sekembalinya saya dari perantauan panjang yang lebih lama dan jangka waktu yang tidak bisa saya bayangkan sebelumnya. akhirnya kini saya pulang, dan saya ingin berpesan kepada mereka, kepada yang memilih diam dalam setiap fase 'sabar' dan fase 'tunggu' pada hakikatnya sendiri.

bukan tidak mungkin saya pun akan melakukan hal yang sama, menghabiskan waktu untuk duduk sendiri dengan secangkir kopi dan asap mengepul dari cerutu, atau sekedar menyibukkan diri dengan membolak-balikkan koran yang padahal sama sekali tidak saya baca barang sebaris. saya hanya menunggu, menunggu untuk sesuatu yang kadar kepastiannya masih cukup menjadi misteri. pun tapi saya masih sanggup melakukannya, seolah besok habis masa saya untuk menunggu.

saya pun memilih diam, untuk tidak melakukan banyak gerakan yang nantinya malah dengan mudah disalah artikan oleh kebanyakan orang. benar kan? sekarang manusia penuh dengan praduga-prasangka dan sesekalinya berasumsi tidak pernah dikulik darimana sumber pastinya. ada kalanya malah tumbuh menjadi presepsi yang tidak seharusnya.

namun demikian untuk para pemilih diam,

tetapkan tenggat waktu, batas akhir dari sebuah penantian, karena ada kalanya harus bergerak-mencari-dan melakukan untuk sesuatu yang memang harus diperjuangkan.

lebih dari yang memilih diam, adalah bergerak dan arahnya sudah bisa dipastikan.

untuk yang belum?

berjuanglah,

kadang memilih diam diharuskan bergerak, namun gerakannya beraturan, perlahan-lahan dan tidak gegabah dalam mengambil tindakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar