Sabtu, 29 Juni 2013

memancing diam


selamat pagi hari sabtu, biasanya saya sedikit gembira setiap pagi selalu saja ada yang muncul dan sekedar memberikans sapaan khasnya, emmh tapi untuk sabtu kali ini sedang 'dinas', ya sedang ada yang harus diselesaikan maka itu sapaannya tidak terdengar, ucapannya tidak sampai, aah tapi saya yakin pasti bukan karena lupa. mungkin lelapnya tidur efek begadang malam masih menghinggapinya sampai matahari sudah muncul di bilik jendela.
"selamat pagi ya, sayang." 
akhirnya saya yang memulai pembicaraan.

***

sudah dua hari saya memilih untuk mendalami seni bertahan yang sudah pernah saya lakoni jauh sebelum ini. momentnya sama, hanya saja untuk moment kali ini lebih sakral, jadi saya ingin bertahan dan ingin belajar untuk mencoba memancing diam.
"memancing diam?"
bahkan yang saya pikirkan seorang kamu akan berkata begitu, menanyakan perihal -aku yang ingin memancing diam- atau sekedar mencegah saya untuk tidak perlu memancing diam, karena (harapannya) dia yang akan sesegera mulai menguntai pembicaraan. aah, lamunan. saya memang harus sesegera mungkin belajar ilmu baru. memancing diam.

***

saya memancing diam pelan-pelan, mengapa demikian? karena pada hakikatnya saya sendiri enggan banyak berurusan dengan 'diam'. saya bisa rapuh, bahkan jauh lebih pupuh ketimbang saya harus berhadapan dengan preman secara langsung, saya takut ketika 'diam' muncul saya tenggelam, dan kemudian saya mati menggenang. saya hanya takut dilupakan.

***

sekarang saya lebih paham, sebenar-benarnya memancing diam, saya masih tetap bisa memahaminya, meskipun itu tidak langsuung utuh, meskipun itu butuh proses, meskipun itu berarti harus lewat perantara dan tidak secara langsung.

"selamat siang ya kesayangan, aku masih ingin memancing diam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar