Jumat, 05 Juli 2013

apa benar dia naksir aku?

Kamu pernah menyukai seseorang? 
memendam rasa? 
mencintainya dalam diam?

Kalau pernah lalu apa yang kamu rasakan?

Degup jantung tak beraturan ketika saling berpapasan? atau sesekali melirik diam dan lalu ketahuan dan kemudian kamu sibuk membincangkan perihal tatapan yang baru saja kamu lakoni dengan teman-teman sepermainan? begitukah?

***

bila tidak begitu, mungkin kisahnya begini. kamu menyukai dia, pada tahapan 'suka'nya kamu padanya, kamu mulai menyelami karakter dia seperti apa. kamu mencari-cari apa kesukaannya sampai pada takaran yang tidak dia suka sekalipun. lalu kamu mulai mengamati bagaimana gerak-geriknya, interaksi terhadap lingkungannya. dan kamu mulai memantas-mantaskan diri. mulai memunculkan asumsi-asumsi sendiri perihal,

"Aku pantas tidak ya untuk dia."

dan kemudian setelah kamu membaca situasi dan ternyata dia seolah memberi respon positif, kamu semakin berusaha untuk benar-benar menjadi yang pantas untuknya.

***

atau mungkin kisah lainnya begini, kamu menyukai seseorang itu dan hanya bisa menjadi yang terus diam mengamati, terus diam mengamini dan kamu tidak pernah berusaha untuk memunculkan apa yang kamu rasa pada sekelilingmu, kamu hanya diam dan ya memang dalam diam kamu mengeja bait-bait dan setiap fase pemahaman kamu tentangnya, sesekali kamu mencari banyak informasi, kamu mulai mencocok-cocokkan informasi yang kamu dapat dengan yang kamu alami sendiri (hasil interaksi langsung kamu dengannya). bila cocok kamu akan mulai menyusun hipotesa, 

"ooh si dia begini."

atau sekalinya ada yang kurang pas pemahamanmu langsung beralih, mencari dalih dan mencari yang sebenar-benarnya terjadi,

"kenapa dia begini ya, kan dari informasi dia seharusnya begini kalau dia melakukan hal yang begini."

yaa semacam itulah, kamu menciptakan pemahaman-pemahamanmu sendiri tanpa melibatkan seseorang yang lain sekalipun itu teman-teman terdekatmu, karena dengan begitu kamu merasa aman bisa menyukainya dalam diam.

***

bagaimanapun kisah-kisahmu tadi, ada satu paragraf yang cukup pas untuk masalah hati seperti ini,
"... Mungkin ada benarnya juga buku-buku itu bilang. Orang-orang yang jatuh cinta terkadang terbelenggu oleh ilusi yang diciptakan oleh hatinya sendiri. Ia tak kuasa lagi membedakan mana yang benar-benar nyata, mana yang hasil kreasi hatinya yang memendam rindu. Kejadian-kejadian kecil, cukup sudah untuk membuatnya senang. Merasa seolah-olah itu kabar baik. Padahal, saat ia tahu kalau itu hanya bualan perasaannya, maka saat itulah hatinya akan hancur berkeping-keping. Patah hati! Menuduh seseorang itu mempermainkan dirinya. Lah, siapa yang mempermainkan siapa, coba?"
-Tere Liye.Berjuta Rasany.28-

ya,  selagi masih bisa membina hati jangan pernah dikasih celah untuk bisa disakiti.

cuma punya satu hati kan?
kalau bukan diri sendiri yang menjaga, lalu siapa lagi? :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar