Minggu, 14 Juli 2013

mencintai murni tanpa karena



Ada sebagian dari padanya bilang aku ini lelaki pengecut, sebagian lagi berkata aku hanya penakut yang tidak punya nyali untuk bisa benar-benar berkata fakta tentang apa yang aku rasa, untuk yang bisa benar-benar mengucapkannya. mengucapkan sabda apik yang memang seringkali orang katakan secara gamblang tanpa gamang, sabda yang memang bisa dicetuskan secara tegas tanpa nada sumbang oleh mereka-mereka yang mengaku sedang jatuh cinta.

"Aku mencintaimu."

Lagi-lagi bukan untuk kali ini saja, aku hanya bisa benar-benar mengeja sabda itu dalam hati. hanya berani memunculkan pada kerlingan mata yang sekelibat-pernah bertatapan langsung dengan kedua bola matanya, hanya bisa bertanda-tanya tanpa pernah berusaha untuk mencoba berujar kata, malu-malu untuk berkomunikasi, pun masih sibuk menerka-nerka dan mencoba merangkai cara bagaimana bisa benar-benar mengajak seorang kamu untuk berbicara.

sampai pada akhirnya tangan ini menemukan momentumnya sendiri. disudut sekolah dengan buku yang berserakan tumpah ruah, aku menangkap kehadiranmu kesusahan, berusaha mencari pertolongan, dan aku. ya, refleks aku berlari-mengejar dan membantumu.

Aku masih mengingatnya, tepat setahun yang lalu, tepat aku memakai seragam putih abu untuk yang terakhir kali, ya lebih tepatnya kita yang terakhir kalinya memakai seragam puti abu-abu, dan tepat disaat kamu menjabat tanganku sesaat dan kemudian kamu berkata memecah hening yang seketika tercipta,

"Selamat ya, akhirnya impianmu masuk universitas itu tercapai."

Ah, pemberitaan tentangku dan universitas itu sudah menyebar. dan aku bahkan tidak pernah menyangka kabar itu sampai ditelingamu dan kamu menjabat tanganku, memberiku selamat atasnya.

ironis kan?

bahkan aku baru bisa benar-benar berbincang denganmu kala itu. benar-benar bisa mendengar suaramu, dan benar-benar bisa mempersempit jarak sampai seperti ini.

ya, sungguh ironis.

ini hari terakhir kita bersekolah, hari dimana semua siswa-siswi kelas 3 resmi dinyatakan lulus dan berhak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi sesuai dengan pilihannya masing-masing. aku memilih timur sebagai poros dan lalu kamu menjadikan utara sebagai panutan. kita akan membentangkan jarak, pun demikian dengan rasa yang hanya akan bisa mekar dibalik semak-semak belukar rumput taman sekolah.

mencintaimu disaat jarak membiarkan rasa itu tumbuh utuh tanpa sekalipun diusik, tanpa sekalipun dieja, tanpa sekalipun dibiarkan keluar dan kerongkongan mengering.

 "Emmmh,, terimakasih kamu juga ya sukses dengan pilihannya."

Tercekat, sudah tentu.
Terdiam, sudah pasti akan begitu.

Aku hanya tidak punya kata-kata selain susunan kata tadi yang bisa aku lontarkan dengan lugas, bahkan sampai detik itu aku berbicara dan menjabat tanganmu, tiada yang lain yang bisa aku keluarkan dari ejaan mulutku. Rasa-rasanya aku murka, aku tidak bisa berdamai dan berduet apik dengan apa yang ada dipikiranku. semuanya nyata, dan tampak terbaca hanya dalam hatiku. ya, hanya dalam hati. tanpa sedikitpun memberi celah untuk kamu bisa mengetahui.

"Sudah dulu ya aku harus pergi sampai jumpa lagi nanti."

Aku akhirnya benar-benar melepaskanmu, tak ayal hanya bisa diam berdiri dan tidak berkutik sampai akhirnya kamu benar-benar tak tampak dari pelupuk mataku. aku menangis, dan hanya bisa diam meng-amin-i perihal harap akan ada perjumpaan lagi setelah ini. perjumpaan yang mungkin akan memberanikan hatiku untuk bisa berkata lugas tentang apa yang tengah dirasa.

ya, sampai saat itu tiba hati ini akan tetap ku jaga keutuhannya. untuk kamu disana.

sampai akhirnya perjumpaan itu tidak pernah terjadi, hari ini aku berkunjung di rumah abadi milikmu dengan sekuntum bunga mawar merah merekah ditanganku, sekuntum bunga yang selalu ingin aku berikan padamu waktu dulu. bunga yang dikata sebagian daripadanya adalah simbol kekuatan cinta. pun sampai saat ini aku memang masih mencinta, tidak kurang, tidak lebih, sebab aku menakarnya seimbang setiap hari. sebab aku tidak akan membiarkan rasa ini layu, dan sebab kamu akan tetap menjadi yang ter-megah di hati.

sudah hampir jelang petang.

lelap kamu disana, sepi.

dan aku ada disini, memandangi nisanmu, berkata lirih.

"Aku masih sama, mencintaimu murni tanpa karena."

*Bogor-gerimis 14 juli 2013*
-Pristi Sukmasetya-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar