Senin, 12 Agustus 2013

bijak (mengawali-mengakhiri)

selintas memang penuh makna yaa :"
memang benar, toh nyatanya juga demikian. ketika pada awalnya kamu memutuskan untuk mengambil sebuah pilihan dari banyak pilihan yang tersedia, dan kamu siap dihadapkan dengan konsekuensi-konsekuensinya sendiri untuk menjalani daripada pilihanmu itu, tentunya kamu pun siap bila pada akhirnya sesuatu yang menjadi pilihan di awal harimu menjadi yang terakhir pula untuk benar-benar ditutup kisahnya.

sebab,
"Tidak ada yang benar-benar berakhir, sebab bagian dari akhir pun adalah sebuah awal bagi kisah yang lain"
ada kalanya kita dipilih, kemudian digariskan, untuk menjadi pelengkap dari sebuah kisah yang belum begitu membutuhkan kehadiran kita didalamnya. bagaimanapun kita tetap menjadi bagian yang dianggap ada. ya, meskipun itu setengah-setengah. pasti ada kalanya kita menjadi yang itu.

atau kemudian, kita adalah tokoh utama dari kisah kita sendiri, menarik orang-orang yang sudah dipilihkan oleh kita atau tidak sengaja terpilih bahkan ada campur tangan orang lain dalam memilih, lalu mendampingi kita, menggarap dengan apik skenario milik kita, susunannya rapi dan hingga akhirnya layak baca. sampai suatu saat tokoh-tokoh itu harus pergi untuk menyelesaikan kisah yang lain. sedangkan kita? masih terjebak dalam kisah kita sendiri. ya, ada. memang ada yang demikian ini.

namun sebaik-baik kisah yang ada pastilah bukan monolog sepi. diramaikan barang satu atau dua tokoh lain. memunculkan klimaks pada bagiannya sendiri-sendiri.

untuk sebuah akhir,
kita bisa mencarinya, merangkainya, membuatnya, menyusunnya, tapi kita tidak pernah bisa benar-benar memastikan akhir seperti apa yang akan benar-benar kita dapati.

Sesungguhnya Allah-lah sebaik-baik pembuat skenario yang ada dalam jagad raya ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar