Senin, 23 September 2013

tahu diri


tahu diri-ost perahu kertas

Hai, selamat bertemu lagi..

sudah lama kita tidak pernah bertemu, sepekan, merambah hitungan bulan, dan bahkan bertahun pun berhasil dilewati. ya, setidaknya nasib untuk tinggal dalam bayang-bayangmu dimasa putih abu-abu pupus sudah. 

kelegaan tersendiri bagiku melewati fase-fase sulit memendam itu dan akhirnya aku lulus dengan gelar kemegahan yang bersanding bersama dengan euforia bocah beranjak dewasa. kebanyakan dari yang sudah mendengar ceritaku tentangmu, akulah nomor satu. memujimu, menjagamu, mendambamu dalam seribu diam milikku. tidak pernah luntur kadarnya, ironisnya semakin mendekati fase perpisahan gejolak dalam hati semakin berkembang, menyeluruh dan hampir meluluh-lantahkan pertahanan tembok bisuku.

ya, aku tidak pernah berfikiran untuk mengadakan sebuah pertemuan lagi denganmu setelah itu. bagiku cukup. ceritaku tamat. dengan akhir yang sama sekali bukan bagian dari imajiku sendiri. aku menyerah tanpa syarat.


Aku sudah lama menghindarimuSialkulah kau di siniSungguh tak mudah bagikuRasanya tak ingin bernafas lagiTegak bediri di depanmu kiniSakitnya menusuk jantung iniMelawan cinta yang ada di hati


namun nyatanya aku salah, ada pertemuan yang seringkali orang bilang 'kebetulan' dan aku masih ragu untuk menyebut pertemuan kita pertama kalinya ini -setelah sekian lama itu- hanya sebagai 'kebetulan' biasa. 

berharap? 

mungkin masih begitu. ya, benar. hatiku membenarkan tentang harapan-harapan yang tersembunyi, yang hanya berani tampil malu-malu begitu melihat sosokmu melintas, terhenti, tersenyum, dan mengulurkan jabat tangan kepadaku sore tadi.

pertemuan lagi, bisikku dalam hati.

Dan..upayaku tahu diri..Tak slamanya berhasilPabila kau muncul terus beginiTanpa pernah kita bersamaPergilah,menghilang sajalah lagi

ah kamu tidak pernah berubah, jabat tanganmu masih terasa hangat seperti waktu dulu, senyuman penuh maknamu pun begitu. aku tidak ingin beranjak, masih ingin lebih lama menikmati waktu bersama-sama denganmu. pilu memang, bahkan sampai sekarang pun aku masih tidak tau kemana arah hatimu menuju. yang aku pahami hanyalah hatiku. hatiku yang masih sibuk mencari tau perihal masihkah ada kesempatan untuk bertegur sapa dan singgah sejenak dalam hatimu. 

Bye, selamat berpisah lagiMeski masih ingin memandangimuLebih baik kau tiada di siniSungguh tak mudah bagikuMenghentikan sgala khayalan gilaJika kau ada dan ku cuma bisaMeradang menjadi yang di sisimuMembenci nasibku yang tak berubah

kita akhirnya berbincang, kali ini kamu yang mendominasi. aku lebih banyak diam dan masih saja tidak cukup punya  keberanian untuk menatap kedua mata teduhmu lagi. sesekali tersenyum tipis dan coba melontarkan beberapa pertanyaan, menggali informasi tentang kehidupanmu yang sekarang. nihil ya, acapkali berharap bisa menyelami seluk beluk kisah sekelumit hatimu, namun selalu begitu. 

tatapannya semburatkan isyarat.

mundur teratur

kurang lebih begitu ujarnya. aku hanya bisa menafsirkan lirih dalam nafas sengal bahasaku sendiri. aku hanya perlu waktu lebih lama lagi untuk bisa benar-benar biasa saja atas semua apa yang aku rasa. ya, kesederhanaan mencintai tanpa harus memiliki. aku hanya perlu itu sekali lagi.

Berkali-kali kau berkataKau cinta tapi tak bisaBerkali-kali ku tlah berjanjiMenyerah....
Dan..upayaku tahu diriTak slamanya berhasil

tidak pernah ada yang berani menanyakan bagaimana kabar hati pun kamu begitu kepadaku. kita sama sekali tidak ayalnya bocah lugu yang sibuk membicarakan pencapaian masing-masing selama ini. tapi tidak tentang hati. dan begitulah aku masih sibuk bertanda tanya.

aku yang tidak berani, kamu yang tidak pernah sadar, atau kita ternyata memang menunggu satu sama lainnya untuk memulai? tapi jujur aku tidak pernah punya nyali untuk bertanya tentang hal sesensitif ini.

sudah. pertemuan kita berakhir dengan lambaian tangan yang entah kapan lagi bisa berjabat lagi.

Pergilah,menghilang sajalahPergilah,menghilang sajalah lagi...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar