Selasa, 29 Oktober 2013

sepayung berdua


mari duduk disebelahku. payungku masih muat untuk sekedar melindungiku bersamamu disini. coba lihat hujan sedang turun. rintik-rintiknya nanti bisa membuatmu sakit, aku tidak mau. iya, aku tidak mau melihat kamu harus terbaring lemas dengan panas tinggi di kasur, tidak melakukan apa-apa. hanya tidur, istirahat, dan mengatur pola makan agar cepat sembuh.
 iya, benar, aku tidak ingin kamu sakit. aku khawatir.
mari duduk disini, diam sejenak bersamaku, menghabiskan masa hujan sembari kita berbincang, tentang bagaimana harimu, tentang siapa pemilik guratan senyum diwajahmu, atau bahkan mungkin kamu ingin berbagi perihal dia yang selama ini menjadi alasan tabuh genderang pada detak jantungmu, pemicu adrenalin nomor satu yang seringkali kamu elu-elukan itu. 

ya, bahkan sampai saat ini aku masih belum tahu siapa sebenar-benarnya sosok 'agung'mu itu, kamu hanya menyebut inisial pada alfabet pertama dan aaah yang jelas itu pasti bukan aku.

kemudian kamu mulai bercerita tentang harimu dan benar saja, kamu mulai menceritakan sosok itu secara lebih terperinci.bila mencerna dari rona yang aku tangkap kamu tampak bahagia, bebas leluasa menjabarkan dia secara utuh tanpa sedikitpun bersisa. sepertinya, kamu tahu segala. mulai dari barang yang dia suka, kebiasaan-kebiasaan kecil yang dia lakukan, sampai jadwal terupdate tentang apa yang dia kerjakan.
sayang, aku tidak bisa benar-benar jujur pada perasaanku sendiri. terhadapmu.
sebaiknya aku menyerah. aku sudah kalah. sudah tidak adalagi kesempatanku maju. untuk menjadi yang nyata yang ada disisimu dan tertangkap oleh hatimu
kamu semakin sumringah menceritakannya, tentang progress pendekatan hatimu dengan hatinya, mengenai pertemuan-pertemuan yang kalian berdua adakan, sampai akhirnya kamu sendiri jujur mengatakan.
"aku sudah mantap memilihnya, malam nanti akan aku ungkap segala. ya, aku mencintainya."
aku hanya bisa memberi anggukan kepala, menyemangati agar kamu melakukan aksimu itu sembari tersenyum tipis dengan hati teriris. tidak apa-apa. begitu kataku dalam hati mengumpulkan kepingan-kepingan hatiku yang mulai berserakan. setidaknya, sore ini aku masih bisa menikmati momen-momen sepayung berdua bersamamu.
sampai nanti hujan datang, bukan aku lagi yang berada disisimu. memegang tangkai payung untuk sekedar sepayung berdua bersamamu.

-pada sebuah hujan dan kenangan- 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar